liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Dampak Kurangnya Jumlah Dokter Spesialis di RI, Ribuan Bayi Meninggal

Dampak Kurangnya Jumlah Dokter Spesialis di RI, Ribuan Bayi Meninggal

1 minute, 51 seconds Read

Kekurangan dokter spesialis masih menjadi masalah di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, hal itu berdampak pada ribuan bayi cacat jantung yang meninggal dunia.

Budi mengatakan, jumlah rumah sakit yang bisa menangani penyakit jantung di negeri ini relatif minim. Faktanya, 10% atau 48.000 bayi yang lahir di negara ini menderita kelainan jantung. Sementara itu, 25% dari bayi tersebut atau sekitar 12.500 merupakan penyakit jantung bawaan.

Dengan kata lain, sebanyak 12.500 bayi yang lahir setiap tahunnya harus mendapatkan pelayanan operasi jantung paling lambat 1 tahun setelah lahir. Minimnya jumlah layanan jantung anak di Tanah Air berarti hanya 5.000 bayi yang bisa mendapatkan layanan tersebut.

“Jumlah dokter spesialis yang bisa melakukan operasi jantung pada bayi masih kurang,” kata Budi dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/1).

Budi mengatakan hanya ada delapan rumah sakit yang bisa melakukan operasi jantung pada anak di Tanah Air, lima di antaranya berada di Pulau Jawa. DKI Jakarta memiliki dua rumah sakit dengan layanan bedah jantung anak yaitu RSUP dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Hati Harapan Kita.

Keterbatasan jumlah pelayanan dan tingginya jumlah kasus bedah jantung anak menyebabkan waktu antrean yang panjang. Waktu antrian terpendek di RS Kariadi Jawa Tengah atau 4 bulan, sedangkan di RS Jantung Harapan Kita terlama yaitu 3 tahun.

Selain jumlah rumah sakit, Budi menilai tingginya angka kematian bayi juga disebabkan oleh minimnya dokter bedah jantung di Tanah Air. Budi mencatat hingga 2022 industri kesehatan nasional membutuhkan 1.282 dokter spesialis di bidang jantung dan pembuluh darah. Sedangkan jumlah dokter spesialis kesehatan anak sebanyak 3.662 orang.

Dia mengatakan butuh 11 tahun untuk memenuhi kebutuhan dokter jantung dan 26 tahun untuk dokter anak. Pasalnya, jumlah dokter spesialis jantung hanya bisa bertambah 180 orang setiap tahun, sedangkan jumlah dokter spesialis anak sebanyak 259 orang.

Dengan demikian, Budi akan menambah kuota mahasiswa kedokteran menjadi dosen dari 3:1 menjadi 5:1 dengan menerapkan Sistem Kesehatan Berbasis Akademik. Singkatnya, sistem pendidikan menggabungkan pendidikan berbasis sekolah dan berbasis rumah sakit.

Dengan demikian, kebutuhan dokter spesialis jantung pada tahun 2022 dapat terpenuhi pada tahun 2027. Sedangkan kebutuhan dokter spesialis anak akan terpenuhi pada tahun 2030.

Budi mengatakan penerapan Sistem Kesehatan Berbasis Akademik ini penting karena dokter spesialis hanya bisa lulus di 20 FK dari total 92 FK di tanah air. Sedangkan total rumah sakit di Tanah Air mencapai 3.000 unit.

“Kita perlu mengubah sistem pendidikan kedokteran di Indonesia untuk mengikuti best practice di seluruh dunia,” ujarnya.

Reporter: Andi M. Arief

Similar Posts